
Ibarat surat cinta, Pangku bertutur dengan sangat indah dan menawan. Puitis dengan versinya sendiri. Jujur tanpa menutup-nutupi. Pangku bercerita dengan sederhana tentang perjuangan seorang Ibu[…]

Jika mengingat tentang Ada Apa Dengan Cinta (AADC), aku jadi ingat tentang mimpiku menjadi seorang novelis. Aku menyukai dunia tulis menulis sejak SD, jika ingatanku[…]

SILA Sebutkan satu alasan mengapa kamu mencintai seseorang? Perhatiannya? Kepribadiannya? Dia ganteng? Dia kaya? Kalau kamu bertanya kepadaku mengapa aku mencintainya, aku akan menjawab karena[…]

Dia ada di antara puluhan ikat bunga warna-warni berlatar senja. Duduk berdiam diri, menunggu konsumen untuk membeli bunga-bunga yang ia jual. Di belakangnya, menjulang tinggi[…]

Hujan turun. Dan aku menangis di bawahnya. Begitu kisah ini kumulai dengan analogi sederhana yang kuciptakan. Hujan turun, berarti langit sedang bersedih. Tumpahan air hujan[…]

Jogja, kala itu. Masa ketika kita sedang dalam ujian, pencarian jati diri. Kamu memang justru sengaja menari-nari di dekatku, sengaja mempertontonkan bahwa kamu layak untuk[…]

Jogja atau Jakarta? Entahlah, hanya kamu yang tahu jawabannya. Kamu. Jogja. Aku. Dan Kita. Lalu, kenangan ini. Kamu ingat? Tidak, aku yang ingat. Kisah ini.[…]

Begitu memuakkan, mencintai tanpa memiliki. Yang ada, tapi tak tiada. Lebih menyebalkan, mencintai tapi tak pernah diutarakan. Bak permen karet yang menempel pada sandal, lalu[…]

Jakarta. Hari ini. Sejak lama, aku sudah tahu, bahwa sebenarnya aku hanyalah pilihan kedua di hidupmu. Bahkan kini aku tak yakin, apakah masih ada aku[…]

Setiap kita punya kawan. Yang perjumpaannya tidak pernah ada yang tahu. Yang perpisahannya tidak pernah tahu. Kawan kecil yang kemudian hilang. Berganti dengan kawan-kawan baru.[…]