
Ibarat surat cinta, Pangku bertutur dengan sangat indah dan menawan. Puitis dengan versinya sendiri. Jujur tanpa menutup-nutupi. Pangku bercerita dengan sederhana tentang perjuangan seorang Ibu yang membesarkan anaknya. Familiar? Iya, mungkin kamu pernah mendengar cerita tentang seorang Single Parent yang membesarkan anaknya menjadi salah satu aktor hebat di Indonesia: Reza Rahadian. Dan, film ini adalah surat cinta dari sang aktor tersebut.
Pangku dibungkus dengan naskah yang apik, akting yang luwes dari semua pemain, plot yang menyentuh, sinematografi yang indah, scoring yang menyayat, dan pemilihan soundtrack yang terasa sangat pas sekali. Tidak ada narasi yang sia-sia, semuanya begitu tepat di tempatnya masing-masing.
Berlatar cerita di sebuah Kedai Kopi Pangku di Pesisir Utara Jawa di era Krisis Moneter, Pangku memotret kehidupan bawah yang menyentuh. Mengangkat perjuangan kaum-kaum pinggiran yang berjuang di tempat pelelangan ikan. Film ini terasa sekali memiliki riset yang mendalam tentang kehidupan di sana.
Setengah film ke belakang aku terhenyak dan menangis. Filmnya terasa jujur dan disampaikan dengan indah sekali. Reza benar-benar mencurahkan hatinya di Film perdana yang ia sutradarai. Selama 1 jam 40 menit, ia membiusku bahkan dari detik pertama. Aku memang mudah sekali tersentuh jika menonton atau membaca cerita dengan tema Ibu. Terasa emosional sekali. Pangku berhasil membuatku teringat tentang perjuangan Alm. Mamak dulu ketika membantu Bapak mencari tambahan rejeki.
Potret perjuangan Sartika, tokoh utama film ini, membesarkan Bayu menjadi seorang penjaja Kopi Tungku menjadi nafas di film ini. Perjuangannya ditampilkan bahkan sejak detik pertama film ini dimulai, dan terus mengular hingga film ini selesai. Diperankan oleh Claresta Taufan, Sartika tumbuh menjadi Ibu yang tegar, tidak menye-menye, dan penyayang.
Jika ada satu hal di film ini yang terasa sangat mengganjal, yaitu eksplorasi Kopi Pangku itu sendiri. Sebagai roh dari cerita, saya merasa bahwa tradisi Kopi Pangku tidak dieksplorasi dengan mendalam, terutama yang berkaitan dengan Sartika. Terasa hanya seperti sempilan-sempilan kecil di dalam cerita, padahal roh ide dari film ini justru dari tradisi ini. Sangat disayangkan saja. Namun, tetap saja kekurangan kecil ini tidak mengurangi kejujuran film ini dalam bercerita. Mungkin, Reza punya pertimbangan sendiri terkait hal ini. Film ini tetap jujur, apa adanya. Aku tetap menyukainya.
Meskipun film ini bercerita tentang bagaimana beratnya perjuangan seorang Ibu, tetapi dia tidak kehilangan arah dan justru malah menjual kesedihan. Tidak ada tangis yang lebay, tidak ada adegan yang menyayat-nyayat, tidak ada dialog-dialog berlebihan seperti sinetron. Justru semua adegan yang ditampilkan semakin menggambarkan betapa kuat dan hebatnya Sartika, meskipun dunia seolah tidak berpihak padanya.
Layaknya seperti surat cinta, Pangku berhasil meninggalkan bekas yang mendalam di hati. Membuat hati terasa hangat dan menyenangkan.
Saya jadi tidak sabar untuk menunggu film-film lain dari Reza Rahadian.
No responses yet