
Jika mengingat tentang Ada Apa Dengan Cinta (AADC), aku jadi ingat tentang mimpiku menjadi seorang novelis. Aku menyukai dunia tulis menulis sejak SD, jika ingatanku tidak salah, sejak kelas 4 SD. Rasa sukaku itu kemudian semakin besar ketika aku melihat film AADC. Puisi. Sastra. Mading. Romantisme. Kisah cinta Rangga dan Cinta menghipnotisku untuk menyukai sastra. Bahkan aku sempat menjadi pengurus mading karena AADC.
Jadi saat Miles akan membuat rebirth AADC dengan judul ‘Rangga dan Cinta’, aku sangat antusias. Aku mengikuti prosesnya hari demi hari, minggu demi minggu dengan rasa penasaran “Apa yang akan ditawarkan Riri Riza pada ‘Rangga dan Cinta’.
Rasa penasaranku itu akhirnya terbalas ketika akhirnya aku menonton untuk kali pertama. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika akhirnya menonton aku pasti akan membandingkan dengan versi originalnya. Apalagi semua adegan, dialog, dan karakter sudah menemaniku ‘tumbuh’.
Hasilnya: aku terhenyak saat menonton kali pertama film ini dan sempat berpikir: memang benar kata orang, mungkin film ini tidak seharusnya dibikin ulang meskipun dengan embel-embel ‘Musikal’. Semuanya serba nanggung: karakter, adegan, dialog, bahkan yang menjadi lauk utamanya: Musikal. Rasa cinta Riri Riza pada film “La La Land” tidak bisa dipungkiri sedikit mempengaruhi ‘rasa’ dan beberapa adegan film ini.
Aku sempat kecewa.
Akhirnya aku memutuskan untuk menonton kembali kedua kali untuk memastikan sekali lagi perasaanku. Kali itu, aku mencoba untuk mengosongkan pikiranku, meskipun sangat sulit sekali. Aku mencoba untuk menganggap bahwa Rangga dan Cinta adalah film baru yang dibuat untuk Gen Z. Aku menurunkan ekspektasi. Seperti gelas yang kosong, aku duduk di bangku bioskop dengan perasaan ‘baru’.
Hasilnya: aku kembali terhenyak. Kali ini bukan karena aku mencoba membandingkan dengan versi originalnya. Tetapi aku menjadi tahu, mengapa Miles mencoba untuk membuat ‘Rangga & Cinta’.
Aku merasakan lagi rasa jatuh cinta, euforia saat remaja, dan bahkan ingat kembali rasa sukaku dengan sastra. Semua pemain tidak bisa dibandingkan dengan pendahulunya. Dian dan Nico yang terbaik. Tetapi, para pemain Rangga dan Cinta menginterpretasikan karakter sesuai pemahaman mereka, sesuai versi mereka.
Cinta tampak sangat luwes ketika ‘jatuh cinta’ dengan Rangga. Rangga versi El Putra juga jauh lebih “Rangga”. Ia lebih rapuh dari versi Nicholas Saputra, dan menurutku lebih cocok menjadi ‘Rangga’ (bukan parasnya, tapi karakternya). Semuanya tampak pas, sesuai porsinya. Nuansa musikalnya pun membuat film ini terasa lebih fresh untuk anak-anak jaman sekarang.
Tentu saja, bayang-bayang AADC tidak bisa hilang 100%. Versi original ini tentu memiliki tempat tersendiri di hati penggemar. Dengan rasa orininalitas inilah membuat AADC tidak bisa tergantikan. Dia tetap menjadi yang terbaik versi dia sendiri. Bahkan Rangga dan Cinta tidak bisa menggantikannya.
Namun, tentu saja Rangga dan Cinta bukan ingin menggantikan AADC. Justru dia melengkapi universe AADC. Ada beberapa pertanyaan di AADC 1 yang akhirnya terjawab di Rangga dan Cinta. Walaupun ada satu hal yang kusesali yaitu mengapa adegan “Basi, mandingnya sudah siap terbit” dihilangkan. Padahal itu momen yang aku tunggu-tunggu.
Pada akhirnya, Rangga dan Cinta berhasil membentuk dunianya sendiri. Para pemain merepresentasikan sendiri karakter-karakternya. Meskipun Rangga dan Cinta cukup terseok-seok untuk menarik penonton, tetapi aku harus mengakui bahwa Miles dan Team telah sukses melahirkan kembali Rangga dan Cinta.
Sebagai orang yang tumbuh bersama mereka, aku cukup bahagia dan sudah menontonnya 3 kali di bioskop.
No responses yet